Minggu, 25 Desember 2011

Review Manusia Setengah Salmon


Judul                : Manusia Setengah Salmon
Penulis             : Raditya Dika
Penerbit           : GagasMedia
ISBN                 : 979-780-531-9
Tebal                : 258 halaman
Harga               : Rp. 42.000,- untuk pembelian di toko buku terdekat
                          Dapatkan disc. 15% untuk pembelian di toko buku online
         
“Ketika sesuatu sudah mulai sempit dan tidak nyaman, saat itulah seseorang harus pindah ke tempat yang lebih luas dan (dirasa) cocok untuk dirinya. Rumah ini tidak salah, gue dan dia juga tidak salah. Yang kurang tepat itu bila dua hal dirasa sudah tidak lagi saling menyamakan tetap di pertahankan untuk bersama.
Mirip seperti gue dan dia.
            Dan, dia memutuskan untuk pindah”.

            Kalimat diatas adalah kalimat yang mewakili tubuh dan inti utama dari sebuah “perpindahan” didalam novel Manusia Setengah Salmon nya bang Raditya Dika yang beredar 24 Desember kemarin.
            Novel yang masih menceritakan tentang kesehariannya bang Dika, dengan segala pengalaman aneh bin absurd nya, yang tetap memancing gelak tawa pembaca. Pada buku ke enamnya ini, cerita dalam MSS ini terlihat lebih cerdas dengan banyakquotes menarik didalamnya. Dan “pindah” sepertinya magnet utama dalam buku ini.
            Kelakuan aneh dari keluarganya bang Dika yang juga dikupas secara frontal tetap menjadi cara jitu untuk memancing tawa pembaca. Mulai dari “Ledakan Paling Merdu” yang menceritakan tentang kebiasaan melakukan senam kentut setiap pagi yang selalu dilakukan papa-nya bang Dika, yang menurut dia itu sehat karena gas di perut kita hasil tidur semalam harus dikeluakan, kalau enggak nanti kita bisa sakit. Sampai akhirnya bang Dika pun menirukan kebiasaan ini, yang diberi nama “Kentut Bersama”.
            Belum lagi bab-bab menarik yang masih mengundang senyam-senyum dan tawa-tawi adalah teteeeeup kelakuan aneh nya Edgar (adik terakhirnya bang Dika), yang selalu saja di eksplore secara brutal dan tidak ber prike-Edgaran dengan membuka aib dan kebodohan adik malangnya, atau tentang Mama yang selalu merasa khawatir dan selalu melebih-lebihkan sesuatu yang sering membuat kesal tapi ngangenin.
            Selain kalian akan dimanjakan dengan suguhan “kegalauan” tingkat tinggi dan komedi yang lebih tepat dibuat oleh orang yang sakit jiwa, buku ini juga membahas tentang perhatian Mama yang terkadang membuat kita kesal tapi justru kita merindukan perhatian-perhatian itu, sekalipun perhatian tersebut terlalu berlebihan (Kasih Ibu sepanjang Belanda: 105-134).
            Cerita menarik tentang megap-megap nya bang Dika yang hampir punah karena terkontaminasi zat dari ketiak, pencarian mencari makanan absurd di Venice, perkenalan dengan “Perek” di Belanda (Siapa perek itu? yuk beli dan baca bukunya), interview dengan hantu yang lebih terlihat aneh daripada serem, sampai dengan perjuangan untuk belajar gulat benjang sambil memerah susu sapi. Serta bab-bab lain yang memaksa kalian buat terus-terusan baca, satu yang menarik dan lain dari pada buku bang Dika terdahulunya adalah bab cuplikan dari isi twitternya bang Dika yang singkat tapi tetep lucunya nampooooool.
Diantara semua quotes menarik didalamnya, ini adalah beberapa quotes yang paling menarik buat gue:
v  Ketika sesuatu sudah mulai sempit dan tidak nyaman, saat itulah seseorang harus pindah ke tempat yang lebih luas dan (dirasa) cocok untuk dirinya. Rumah ini tidak salah. Yang kurang tepat itu bila dua hal dirasa sudah tidak lagi menyamakan tetap di pertahankan untuk bersama.
Mirip seperti gue dan dia.
Dan, dia memutuskan untuk pindah. (Hal. 29)
v  Putus cinta sejatinya adalah sebuah kepindahan.
Bagaimana kita pindah dari satu hati, ke hati yang lain. Kadang kita rela untuk pindah, kadang kita dipaksa untuk pindah oleh orang yang kita sayang, kadang bahkan kita yang memaksa orang tersebut untuk pindah. Ujung-ujungnya sama: kita harus maju, meninggalkan apa yang sudah menjadi ruang kosong. (Hal: 36)
v  Semakin bertambah umur kita, semakin kita dekat dengan orangtua kita.
Kita nggak mungkin selamanya bisa bertemu dengan orangtua kita. Orangtua kita bakalan ninggalin kita, sendirian. Dan kalau hal itu terjadi, sangat tidak mungkin untuk kita mendengar suara menyebalkan mereka kembali. (Hal: 133)
v  Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orang tua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima. (Hal: 134)
v  Your first date is his/her timeline (Hal: 152)
v  Mick Jagger: yuo cant always get what you want, but if you try, sometimes you just might find you get what you need.  (Hal: 161)
v  Tumbuh dewasa memang menyenangkan, tapi tumbuh dewasa juga harus melalui rasa sakit-sakit ini.
The pains of growing up. Pindah menjadi dewasa berarti siap menghadapi rasa sakit dan melihat hal-hal yang menyakitkan itu sendiri. (Hal: 203)
v  Salah satu tanda orang udah dewasa adalah ketika dia sudah pernah patah hati. (Hal: 204)
v  Perjuangan untuk pindah adalah perjuangan untuk melupakan. (Hal: 244)
v  Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. Kita hidup diantaranya. (Hal: 254)
v  Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah sesuatu hal yang pasti. (Hal: 255)
v  Untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gak perlu menjadi manusia super. Hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah. (Hal: 256)
v  Kenapa semuanya jadi pindah secepat ini?
Ya, mau gimana? Emang harus begini kan? Kita kan nggak bisa ngelawan waktu. Semuanya pasti berubah. (Hal:257)
v  Mungkin, gue hanya perlu mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil diantara semua perpindahan ini. (Hal: 258)

Manusia setengah salmon, manusia yang berani pindah dengan segala kemungkinan nantinya, pindah dari satu hati ke hati yang lain, pindah untuk mencari apa yang kita butuhkan. Sama seperti salmon yang berani bermigrasi, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur.
Sekalipun itu idak gampang.
Namun perpindahan pasti terjadi.

0 komentar:

Poskan Komentar