Friday, 22 May 2015

Life and Love Story
Of Pemuda Pemudi Amphibi
~ Power of 3726 MDPL Rinjani ~

Menurut KBBI amfibi adalah makhluk yang dapat hidup di dua alam. Seperti katak yang dapat hidup di darat dan di air. Maka, call us more than amphibi traveler. Karena kemarin baru saja kami menjelajah sedikit wilayah negeri meliputi darat, laut, juga udara, lengkap lah pokoknya. Destinasi kami kali ini ke daerah Indonesia bagian tengah, Lombok hingga Bali.
Rencana yang terjadwal sejak Januari 2015. Tanggal 10-16 Mei 2015 memberi sumbangan sejarah buatku. Yang menjadi main dest kami adalah Mt. Rinjani di Lombok. Bisa dibilang 2nd independent pendakian buatku setelah tahun lalu mendaki Semeru di Malang.
Haduh, Axa masih gak percaya sudah melewati semuanya. Masih belum percaya telah menginjakan kaki diketinggian 3725,0008 MDPL. Sampe sempat bersenandung pelan di puncak potongan lirik lagunya Mocca “apabila ini hanya sebuah mimpi, ku selalu berharap dan tak pernah terbangun” hehe lebay.
Hari yang axa tunggu –pun tiba. Entah pertanda apa, sore itu hujan turun deras banget. Padahal sudah nyaris 2 minggu ini awan cerah. Axa yang berencana tidur siang dulu sih bersyukur aja, sejuk.
Ah, rencana tidur siang sejuk itu rusak, berubah menjadi galau gara-gara teringat percakapan dengan seorang HRD by phone Kamis siang kemarin. Isi percakapan yang berinti undangan medical test yang dilanjut interview tahap dua. Artinya interview pertama dan psikotestku 3 bulan silam mereka anggap lolos. “Medical test tgl 12 Mei, untuk surat pengantar ke Klinik Prodia Cideng mba gak perlu ambil langsung karena kami sudah kirim via email ya. Lalu undangan interview akhir tanggal 13” Axa jelas speechless. Pertama, Axa kira Axa sudah gagal mentah-mentah, karena sejak 3 bulan lalu test gak ada kabar apapun. Otak –pun refleks mencari reason yang sekiranya bisa mereka terima agar tawaran tersebut di keep untuk 6 hari kedepan, karena di tanggal itu Axa lagi nanjak. “Terimakasih untuk kabar baiknya bu. Begini, kebetulan saya sedang pulang kampung ada urusan keluarga orangtua saya. Kalau diberi kesempatan hadir hari Senin tangal 18, sungguh terimakasih sekali.”
Owh..  jadi begini, Jadwal tsb bertepatan dengan medical test tahunan karyawan kami. Jadi hanya bisa tanggal 12-13 Mei. Apabila tidak hadir di tanggal 13 untuk sesi interview akhir, mohon maaf kami anggap diskualifikasi
Kurang lebih seperti itu percakapan konyol Kamis lalu. 2 hari sebelum keberangkatanku ke Rinjani. Tapi hidup memang tentang bagaimana kita mengambil keputusan. Tegas, yakin dan mantap dengan jalan yang kita ambil. Kamis siang itu –pun Axa konfirmasi kehadiran ‘Tidak Bisa Hadir’.
Meskipun tau itu kesempatan baik yang memang Axa tunggu-tunggu. Tapi sudahlah. Biasanya usai terima telepon panggilan interview di toilet PDC, Axa langsung cerita ke ka Jiar. Tapi kali ini Axa urung. Axa yakin tuhan cuma lagi nguji keyakinan Axa, dan semoga gak salah langkah. Godaan emang selalu disediakan tuhan untuk nguji kita kok. Jadi keputusan apapun, sebisa mungkin komit ya xa.
Kamis malam lalu Axa juga kaget ternyata mama lupa kalo Sabtu anaknya mau berangkat nanjak. Doi malah ngajak nginep ke rumahnya di Sawangan. “Hellooow ma, kan Tha berangkat ke Rinjani Sabtu ma” | “Oiya lupa mama, seminggu ya? Kok bisa dapet izin dari kantor nak? Atau Tha udah resmi resign? Curiga deh mama.” | “Hehe, gak kok ma. Cuti kok. Rencana awalnya sih gitu, jadi selesai nanjak bisa bobo siang seminggu baru nyari kerja lagi. Hehe tapi gak berani spekulasi ma, soalnya cicilan laptop masih nyisa 2 bulan lagi, jadi Tha sabarin. Kecuali mama yang manis mau bayarin, hehe” | “yeee dasar”
Back to Rinjani!!
Tulisan ini Axa persembahkan untuk diri Axa sendiri. Sebagai histori, yang barangkali bisa jadi penyemangat Axa di hari-hari berikutnya. Juga nantinya untuk dibaca sama orang-orang di my future life, entah siapa mereka haha. Pasangan, anak cucu, juga sahabat.
Terima kasih Allah yang memberi kesempatan ini buat Axa.
Terima kasih hingga Matahari terbit dari ufuk barat kepada mereka yang terlibat dalam sejarah Axa. Pertama untuk partner hebat-hebat, my special one Tomi Ahmad Saputra dan bang Choirul Angga. Lalu bang Pendi, thanks luar biasa sudah menyatu untuk seminggu full kemarin. Terima kasih ayah mama Axa, keluarga mas Tom, keluarga bang doyog, tanpa doa dan izin keluarga mungkin kami akan sulit mencapai tujuan. Terima kasih rekan-rekan di PDC Cileungsi, khususnya untuk bu Yani, pa Muklis untuk cutinya, ka Jiar dan mba Anti untuk back up nya. Terima kasih kakak kesayangan - ka Tri atas dukungan dan doa nya, juga udah nyariin ransel buat Axa pake. Terima kasih buat Om Obe, Om Yong, Bang Eki. Terima kasih bapak dan mamak yang bersedia menampung kami di Mataram, terima kasih sharingnya, terima kasih pagi keakrabannya. Juga terima kasih untuk seluruh temen-temen yang sengaja tuhan pertemukan selama di perjalanan, semoga silaturahimnya bersambung, aamiin. Juga terima kasih luar biasa buat pak Jalu, sudah bersedia mengajak kami jalan-jalan keliling Bali seharian.
Hari itu –pun tiba
Sabtu siang usai kerja Axa langsung pulang ke Depok untuk istirahat sebentar dan siap-siap terbang ke Lombok. Karena dapet jadwal penerbangan pertama di hari Minggu tgl 10 Mei 2015. Axa, Tomi, dan bang Doyog mutusin untuk nginep di bandara Soetta dari Sabtu malam. Dari Terminal Depok langsung via Hiba ke Bandara Soetta. Bang Doyog yang ditemani steady partnernya (Rara) stop bus di depan Bumi Wiyata Margonda. Sesampainya di Bandara kami re-packing ransel, membunuh waktu. Dan bang Pendi nyusul tiba di Bandara jam 3 dini hari.
[Minggu pagi]
Jam 05:30 WIB, penerbangan ontime. Uhm, this’s my first flight. Pertama kali terbang, pertama kali menginjakan kaki diluar pulau Jawa. Begini toh rasanya naik pesawat. Hehe Excited. Desiran darah nadiku setiba di Bandara Lombok, tak seperti biasanya.
Pagi itu om Yong sudah menjemput kami di Bandara Lombok. Kami langsung dibawa om Yong ke rumah Om Obe di daerah Mataram Lombok. Yang Axa suka dari kota Lombok meskipun panas adalah lalu lintas kendaraan disini relatif lancar jarang macet, juga jalanan yang bersih dari sampah.
Kami tiba di rumah om Obe, beliau sudah menyiapkan logistik yang kami perlukan untuk nanjak. Sebelum menuju gerbang pendakian Sembalun, Om Obe mengajak kami untuk nyoba menu sarapan khas Lombok, lupa nama soto nya, yang jelas pedes. Hehe
Setelah itu kami ke desa Senaru, jemput porter untuk bang Pendi. Namanya bang Eki. Orangnya baik, periang, lucu, beliau yang ngeguide kami juga selama 4 hari di pendakian.
Minggu sore, kami tiba di gerbang pendakian Sembalun diantar om Obe. Rame banget sama bule-bule. Re-packing lagi. Daaaannn taraaa.. stok rokok yang disiapkan mas Tom untuk pendakian hilang dengan sendirinya. Huhu ciyan beneng.. sedih :p
Pendakian sore –pun dimulai. Target kami minimal malam ini bisa buka kemah di pos 3. Trek pendakian dari Sembalun full of padang savana, meskipun sore tapi sengatan sinar matahari nya terasssssssaaaaa banget. Apalah arti sunblock.
Alhamdulillah malam itu kami bisa kemah di pos tiga. Selanjutnya menyiapkan semangat untuk besok melanjutkan pendakian dari pos 3 ke Pelawangan.
 [Senin pagi] Perjalanan dari pos 3 ke Pelawangan juga masih di dominasi padang savana, tapi trek sudah semakin nanjak. Mantap lah pokoknya. Mas Tom, bang Eki, dan bang Pendi tiba duluan untuk ngetapin spot buat kami bangun kemah. Axa yang jalannya lambat di momong oleh bang Doyog, hehe. Kalo kata bang Doyog, Axa boros banget sama air mineral. 3 jam mendaki aja habis 2 botol 1,5liter. Biasanya di rumah minum air putih sampe harus diomelin dulu baru minum, kalo nanjak malah gak bisa jauh-jauh sama air J.
Sepanjang jalur pendakian pagi itu lumayan banyak pendaki lokal yang kami temui, dari berbagai penjuru negeri, seru. Saling cerita pengalaman nanjak masing-masing. Ditengah pendakian menuju Pelawangan, Axa dan bang Doyog kehabisan air dan laper. Haduh Axa panik kalo urusan air kali ini. Tapi untuk urusan laper, untungnya kami istirahat bareng sama grup pendaki lain yang juga lagi istirahat di bawah pohon rindang. Mereka menawarkan cemilan sale pisang, tanpa banyak kata bang Doyog yang kelaperan langsung nyomot. Lalu kami lanjut mendaki, mengingat matahari sudah semakin naik.
Tengah hari kami sudah sampai di Pelawangan. Cuaca terik banget. Bangun kemah, puas hunting foto, kami –pun istirahat persiapan untuk summit ke Puncak Rinjani 3726 MDPL dini hari nanti. J
Sebelum tidur kami berempat (Axa, Mas Tom, bang Doyog dan bang Pendi) bikin janji untuk bangun jam 10 malam, dan mulai summit jam 11. Learning by experience. Bagus sekali. Hehe
[Selasa pagi] Mengingat summit Mahameru tahun lalu tiba di puncak siang, gegara Axa lambat gerak. Jadi kali ini harus lebih awal lagi nanjaknya. Ya namanya rencana, namanya janji, kadang bener kadang ngaret. Kami mulai summit Selasa dini hari pukul 00.15 WITA. Treknya luar biasa nguras energi. Jagoan jagoan Axa dah siap webbing buat jaga-jaga. Dan kepake banget huah. Terima kasih :*
Jam 7 WITA kami –pun tiba di Puncak Rinjani 3726 MDPL (Axa 3725 MDPL, oke). Eurekaaaa!!!!! Tiba di puncak layaknya Archimedes yang berhasil menemukan jawaban atas tantangan raja Hieron II. Bravooooo!!! Terima kasih tuhan, kami diberi kesempatan menyaksikan alam ciptaan-Mu dari ketingian ini. Hunting foto pake properti bejibun sudah jadi ritual lah ya. Axa nunggu mereka foto sambil nyaksiin tingkah bule-bule gajel di atas sini. Merenungi apa-apa yang perlu direnungi, kenapa bisa sampai sejauh ini kaki Axa ngelangkah. Apa yang tuhan rencanain buat Axa setelah ini.
Ngeliat foto di atas. Axa inget pernah komen di salah satu foto bang Doyog di fesbuk. Intinya pujian dan rasa iri Axa kepada orang-orang yang namanya selalu dibawa ke puncak gunung, beruntungnya mereka. Tapi bang doyog meyakinkan Axa bahwa Axa juga beruntung, karena bisa merasakan perjuangannya langsung. Yap, menyaksikan nikmat indah tuhan ini secara nyata, secara live.
Usai puas foto kami langsung turun ke kemah di Pelawangan, dan siap-siap turun ke Danau.
Huaaaaaa trek turun dari Pelawangan ke Danau Segara Anak beneurr-beneurrr ruarrr biasaaa!! Semi rock climbing!! Salah-salah nginjek ngejeledag bisa nih kepala. Kali ini mas Tom yang momong Axa. Gak enak emang jadi yang paling lambat tuh, mau bilang ‘udah duluan aja gih’ tapi sebenernya takut ditinggal sendirian, tapi kalo minta tungguin gak enak juga. “kalo lo kenapa-kenapa nanti gue bilang apa sama nyokap lo? Hah?. Honestly, Axa beneran gak suka denger kalimat itu, tapi mas Tom ngucap tuh kalimat lebih dari sekali selama pendakian. Yah, yasudahlah.
Naik turun naik turun bukit, sampai lah kami di Danau dan bangun kemah. Hari sudah gelap, jadi rancana mancing ikan –pun kami batalkan. Axa nunggu jagoan-jagoan yang lagi mandi air hangat di danau sambil ngakalin nasi. Tapi selesai mandi, bukannya makan kita semua malah langsung terpejam. Mengingat besok butuh energi super untuk mendaki pulang.
[Rabu pagi] Waktu terasa ngepress-ketat-minim-terbatas-kurang dan apalah kata-kata untuk menjelaskan waktu yang singkat ini. Jam 02:30 WITA Axa dah bangun dan lanjutin bikin nasi. Bang pendi dari tenda sebelah sudah berkokok pula supaya kami semua segera bangun dan packing. Udara dingin bikin jagoan-jagoan Axa agak sulit buka mata. Ditambah mood yang terganggu karena beberapa list logistik yang kelewat Axa beli. Haduh really sorry ya L
Kami –pun beranjak jam 05:30 WITA. Pendakian pulang via jalur Senaru dimulai. Kurang lebih setengah dari perjalanan pulang jalur terus mendaki, trek bebatuan menantang at least bagi Axa ya. Mungkin kebangetan lambat kali ya, mas Tom yang dah sampe di di Pelawangan Senaru nyusulin ransel Axa, katanya supaya agak cepetan sedikit. Haduh maaf maaf maaf yaaaa!! L
Dari Pelawangan Senaru ke gerbang Senaru masih sekitar 5 – 6 jam lagi, treknya terus turun dan dominasi hutan. Segelintir cerita-cerita miring misteri pun meluncur tiap ketemu antar pendaki. Axa agak kurang perhatian sama hal-hal misteri gitu, kurang ngeh. Ransel Axa sudah pindah ke bahu mas Tom dari pos Cemara. Selanjutnya Axa hanya turun bawa badan sendiri dibantu trekking pole. Mas Tom, Bang pendi, dan bang Eki ngegas sampe di gerbang Senaru karena hari udah makin gelap dan target awal kami untuk ngejar kapal nyebrang ke Gili sore ini. Axa sih mau banget kalo bisa begitu, hehe. Tapi saya mah apa atuh, mana bisa turun gunung lari-larian gitu. Bang Doyog masih momong Axa, jaga-jaga takut stock air minum Axa habis. Lagi-lagi Axa kelepasan ngomong ‘udah duluan aja bang, gapapa’ dan lagi-lagi harus denger bad sentences ‘nanti kalo lo kenapa-kenapa gue yang salah’. Tapi kami sempet misah jarak agak jauh. Kurang lebih satu jam di hutan Axa sendirian, gak ada satu –pun orang yang papasan kecuali polisi hutan yang nawarin obat dan perban. Dan satu lagi seorang pria yang gak sengaja Axa ketemu di tengah jalan antara pos 3 ke pos 2, entah fatamorgana atau nyata, Axa ngobrol sedikit sama orang ini dan satu kalimat nggak asing yang melekat dari orang ini, “Jangan lihat darimana ia berasal, tapi lihat kemana ia menuju” orang itu ninggalin satu kalimat tadi sebelum ia lanjut pendakian ke arah yang berlawanan sama Axa. Axa lupa bilang terima kasih, tanya namanya –pun nggak. Tapi gak mengurangi rasa terimakasih sama orang misterius tadi. Hari makin gelap, akhirnya ketemu lagi sama bang Doyog di pos 2, kami jalan beringinan karena hutan makin gelap, dan kami gak bawa lampu sama sekali.
Hingga sisa-sisa energi terakhir, kami –pun tiba di gerbang Senaru. Istirahat sebentar, lalu melanjutkan perjalanan ke desa Senaru. Setengah perjalanan dari gerbang Senaru ke desa Axa dan bang Doyog dibantu naik motor temennya bang Eki, haduh terima kasih sekali.
Dilanjut makan bakso, lalu numpang mandi di kantor koperasi desa, sampe om Yong jemput kami. Disitu kami berpisah dengan our guide –Bang Eki. Terima kasih dan sampai ketemu lagi bang.
Om Obe menyarankan agar kami istirahat di rumah singgah Mataram dulu, dan melanjutkan perjalanan ke Gili besok. Karena percuma, kapal terakhir jam 5 sore. Kalo tidur ngemper di pelabuhan Bangsal kan kasihan. Kami –pun meng-iya kan saran tersebut. Sebelum istirahat di rumah singgah, kami mampir makan malam bareng Om Obe dan Om Yong, sekalian bikin janji untuk diantar om Obe ke Bangsal besok pagi.
Kami tiba di rumah singgah, packing, bersih-bersih lalu pergi tidur.
[Kamis Pagi] Pagi keakraban itu kami isi dengan sarapan pagi bareng, ada beberapa backpacker juga sejak malam tadi. Dua orang dari Yogja, dua orang dari Samarinda, satu orang dari Padang, dan kami berempat. Sebelum kami dan para backpacker lainnya melanjutkan langkah, kami sarapan bareng dan saling cerita sama bapak dan mamak di rumah singgah. Juga sambil nunggu om Obe ngejemput.
Awalnya om Obe mau jemput jam 7 pagi, tapi karena faktor ngantuk Om Obe baru tiba di rumah singgah jam setengah 10 WITA. Kami langsung pamit sama mamak dan bapak untuk segara lanjut perjalanan. Om Obe ditemani istrinya mengguide kami sepanjang jalan dari Mataram hingga pelabuhan bangsal. Setiba di bangsal kami bikin janji lagi untuk dijemput Om Obe besok siang untuk diantar ke pelabuhan lembar.
Nyebrang dari Bangsal untuk sampai di Gili Trawangan.
Begitu tiba di Gili, kami langsung nyari penginapan yang sudah di pesan Om Obe. Akses ke beberapa tempat terasa more easier di lombok, karena bantuan channel sana-sini Om Obe. Regae Bar namanya, kami menginap satu malam disana, usai bersih-bersih siang itu, nyari makan siang murmer, lalu istirahat sebentar, sore –nya kami langsung hunting sunset ke Sunset point pake sepeda yang sudah kami sewa. No pollutions aaaaa.. Axa suka!! Sejauh mata memandang gak ada motor mobil dan sumber-sumber polusi asap kendaraan!! Semua berlalu lalang pake sepeda atau delman. Yuhuuuu J
Ah, sore itu Axa berterima kasih pada Neptune untuk segala nikmat tuhan yang hinggap meski sekejap.
Kami ada di negara siapa sih ini, kanan kiri depan belakang penuh sama penduduk non lokal. Orang-orang lokalnya ya yang jaga bar, toko, dan pelayan-pelayan disini. Terasing gitu rasanya.
Malam itu kami nyari makan di pasar seni. Uhhh rame banget, lautan bule. Mood Axa agak terganggu ngeliat jagoan Axa pasang wajah bete.
Usai makan kami langsung kembali ke penginapan untuk istirahat. Agenda kami besok adalah snorkeling.
[Jumat pagi]
Hunting sunrise ke arah kiri dari penginapan. Sambil nyari sarapan. Kami dapet sarapan dua jenis sekaligus, nasi bungkus dan lontong sayur haha :p
Usai sarapan bobo dulu sebentar nunggu jam snorkling. Sebelumnya kami sudah packing karena setelah snorkling jam check out penginapan sudah lewat.
This’s Snorkle Time!! Tiga spot snorkle yang (imo) bagus banget tapi kurang berkesan buat Axa karena mungkin baru pertama kali nyoba snorkle dan belum berani buat survive di air bebas seperti ini, hehe sayang sekali. Lain kali harus belajar ya xa. Mosok abangnya pelatih renang, adeknya sama laut aja takut beneng. :p
Turut berduka untuk Samsung Grandnya bang Doyog yang ikut snorkle dan di hak milik sama penyu-penyu di Gili ya L
Habis snorkling kami numpang bilas sebentar ke ragae bar. Lalu dilema berat. Hehe why why? Soalnya hari udah sore, kalo ngitung-ngitung waktu nyebrang ke Bangsal, terus diantar om Obe ke Lembar, nyebrang kapal dari lembar ke padangbai. Uhm, akan makan waktu banyak, energi terkuras. Akhirnya kami ambil keputusan kilat. Ada fast boat yang 5 menit lagi berangkat ke Padangbai. Dengan harga tinggi tentunya. Tapi kalo dihitung, kami akan punya banyak waktu untuk istirahat di Bali. Tanpa banyak pertimbangan, kami langsung naik. Tiba di Padangbai, sudah ada shuttle bus yang mengantar kami ke lokasi tujuan. Sore itu tujuan kami daerah Sanur, Bali. Ada penginapan low price kenalan nya bang Pendi, Om Alfonso namanya. Thanks berat, om!!
Syukur lah. Malam itu kami bisa istirahat dengan nyaman. Sebelum beranjak istirahat kami sempat keliling mencari makan malam yang jatuh ke ‘Masakan Padang’ jajan es krim juga hehe, lalu menyusuri jalanan pinggir pantai Sanur malam hari. Right place J
[Sabtu pagi]
Last day, ahhh gak terasa.. J
Mendung, pada hunting sunrise ke Pantai Sanur. Axa berjaga di penginapan, karena mendadak tamu bulanan. Metabolisme membaik sekali kalo habis nanjak, ditambah sepedahan, minum air banyak, jadilah harus ngejaga mood tetap baik hari itu, walaupun lemas gegara nahan perut sakit.
Hari itu kami akan diantar tamasya keliling Bali sama pak Jalu. Jam 10 beliau sudah menjemput kami lalu kami –pun pergi makan. Soto khas Bali, Axa lupa namanya, hehe. Juga ada sate lilitnya. Selesai makan, pak Jalu ngajak kami nyari oleh-oleh ke toko Pie Susu yang rekomen.
Dilanjut mengunjungi Pantai Pandawa yang super indah menawan. Foto-foto dengan patung-patung dewa yang berjejer. Lalu kami lanjut ke berkunjung ke Pantai Uluwatu Dreamland yang gak kalah keren viewnya untuk foto-foto. Sudah sore, kami –pun nyari makan (lagi). Penasaran sama nasi pedas bu Andika yang rame dibahas di medsos, pa Jalu akhirnya mengajak kami kesana. Dest terakhir sebelum kami diantar pak Jalu ke bandara Ngurah Rai, yap Discovery Shopping Mall (bagian belakang) hehe untuk menyaksikan sunset di Kuta Beach.
Rangkaian perjalanan yang luar biasa –pun nyaris usai. Kami nunggu pesawat yang (ternyata) delay satu jam. Harusnya jam 20:30 WITA kami sudah terbang ke Jakarta. Akhirnya baru berangkat jam 21:30 WITA. Sambil nunggu pesawat senda gurau dilempar sana-sini. Evaluasi hasil jouney kami kali ini.
Di Bandara Soetta kami –pun saling pamit. Bang Pendi sudah dijemput, kami bertiga juga langsung nge-damri sampe pasar rebo.
Tingkat kesadaran udah minim banget tuh malam itu. Tapi masih harus sampe di rumah dulu sebelum bener-bener ngegabruk. J
Pokoknya terima kasih untuk perjalanan kali ini lah ya J
Sampe di Pepaya langsung ngegeletak tidur di ruang depan berdua mama. Pagi hari mama baru sadar tidur sama orang yang mukanya gelap banget. “heh ya ampun, itu muka gelap banget, pasti selama nanjak sunblock nya gak dipake tuh, pasti. Abang-abangnya pada repot mutihin kulit, ini cewek satu malah gelap gelapin kulit ya ampun, kalo pake krim nya males, besok-besok gak ada nanjak-nanjak lagi lah” | “Duhh, jangan gitu mah.. Tha pake sunblocknya, tapi  emang disana panas banget, jadi tetep kebakar kulitnya”
Tuhan, sungguh engkau murah hati telah mengizinkan Axa menyaksikan anugerah mu yang luar biasa indah dari ketinggian. Sungguh mudah juga bukan bagimu mengabulkan harapan yang satu ini. Kelak nanti Axa punya pasangan, Axa mau dia juga pecinta alam dan penikmat semesta-Mu, ya tuhan. Axa ingin kami berpetualang bersama, Axa ingin kami saling memproteksi, menjaga, melindungi karena rasa saling memiliki, bukan hanya karena amanah.
***

0 comments:

Post a Comment

 

Iftitah Axa Template by Ipietoon Cute Blog Design