Tuesday, 16 June 2015

Cewek Matre Vs Wanita Realistis
Cewek matre.. cewek matre..  ke laut ajeh.. ke laut ajeh..” Begitu kira-kira potongan lirik lagu Black Skin yang menurut Axa lucu juga nih dibuat tema obrolan kita kali ini.
Ngobrol yuk…
Obrolan kali ini hanya boleh dipahami sama pria (berpikiran) dewasa. Kalo biasanya Axa posting sekedar jurnal pribadi, kali ini ngajak temen-temen diskusi juga.
Kalo kalian merasa pria dan wanita dewasa, silakan lanjut baca obrolan ini. Dewasa yang Axa maksud disini bukan dewasa secara usia ya, tapi secara pikiran. Karena bagi Axa, tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
Kenapa harus yang berpikiran dewasa yang baca tulisan Axa?  Supaya gak main judge aja, supaya diskusi nya gak alot, supaya baca tuntas dulu, supaya kalo setuju atau gak setuju kalian bisa nimpalin dengan cara yang fair, gak bitchy, annoying, nyebelin badai lah pokoknya. Axa sendiri merasa belum cukup dewasa sih, tapi tetap berproses menuju pendewasaan. Bukan meng-gurui temen temen, tapi murni ngajak sharing.
Axa tergerak hati nulis topik ini gara-gara curhatan temen Axa yang berstatus ‘Mami Muda’, Mbak Elis yang lagi sedikit galau. Terima kasih mbak sudah mengizikan topik ini diangkat buat coret-coretan Axa kali ini, hehe.
“Cewek matre tuh gak ada xa, yang ada cowok yang males usaha aja kali, terus nyalahin cewek deh, ngejudge matre lah, centil lah, murahan lah, gak mau diajak susah lah, gitu. Lah, kalo ngikutin naluri kan emang cewek dikasih,  iya nggak?”
“Masa sih kang? Emang sebegitunya? Tapi yang mutlak matre dan annoying  memang ada kan?”
“Contoh mutlak matre tuh yang minta dibeliin kapal pesiar noh!! Atau minta pulau!! Hahaha.. Kalo masih wajar, masih bisa dijangkau si cowok, masih realistis mah ya bukan matre namanya, gue pembela kaum hawa kok xa, tenang aja”
Kira-kira begitu potongan obrolan Axa sama kang Rifky, senior di kampus. Body nya yang sterek dan atletis  bikin Axa gak yakin pada awalnya senior Axa yang satu ini bisa diajak ngobrol topik tsb dengan setenang, se-asik ini. Axa kira hidupnya cuma habis buat bisnis, nge-gym, dan kuliah. Bener banget deh kalimat ‘jangan judge buku dari covernya, jangan nilai orang dari tampilan luar’.
“Hmm, mbak Aya juga pernah ngomong hampir sama kayak akang, jangan-jangan kalian saling kenal ya? Jangan-jangan jodoh kali!! Hehe”
“Mbak Aya siapa? gue aja gak tau, rese lo!!”
“Yang sering main grafoparty di twitter kang, orangnya mungil cantik baik pinter, baru lulus S1 psikologi UGM”
Back to topic,
“Kalo dipikir-pikir, kata-kata naif semodel ‘aku bersedia hidup dalam keadaan apapun asal sama kamu’ itu hoax gak sih kang? Menurut akang kalimat itu bernyawa gak sih?”
Kalo kita siap hidup sampe tua, hanya berdua sama pasangan sih oke-oke aja hidup dalam ‘kondisi apapun’. Lah kalo kalian dah punya anak? Kalimat itu secara otomatis expired alias kadaluarsa, guys.
Menurut lo, kalo anak kalian yang imut, lucu, menggemaskan itu tiba-tiba jatuh sakit? Apa masih bisa kalian berpuitis ria sama pasangan dengan kalimat-kalimat naif tadi? Wake up guys, realistis aja lah!! Yang ada di pikiran kalian saat anak tersayang sakit hanyalah membawa si buah hati ke rumah sakit terpercaya, mendapat perawatan medis terbaik, memberikan asupan makanan dan obat yang highly rekomen. Kalian akan sibuk tanya sana-sini, teman, keluarga, rekan kalian tentang vitamin apa yang terbaik untuk buah hati kalian, anak-anak kalian. Gak peduli berapa –pun uang yang harus kalian keluarkan, kalian gak akan peduli, demi anak-anak tersayang. Isn’t it?
Nangkep gak sih maksudku guys?
Masuk lah ke jenjang pendidikan anak-anak kalian. Kami yakin, kalo ngikutin naluri dan hati, kalian pengen anak-anak kalian mendapatkan pendidikan terbaik tentunya. Untuk harga? Kalian gak peduli, karena  anak kalian adalah segalanya, priceless. Kalian tentu rela kerja pergi pagi pulang larut malam demi membiayai pendidikan anak-anak kalian, demi menyediakan pakaian, buku, dan perlengkapan belajar yang terbaik buat anak-anak kalian kelak, right?
Masuk ke quality time bersama keluarga. Emang kalian gak ada niat baik untuk menjaga kualitas hubungan kalian dengan pasangan dan anak-anak dengan berlibur? Minimal pergi  tamasya kecil-kecilan di akhir pekan. Untuk merasakan semua itu, minimal taraf hidup kita harus stabil lah. Gak perlu tajir juga sih, yang penting cukup. Setuju guys?
Dengan rutin q-time sama pasangan dan anak-anak, hal tsb secara disadari atau tidak, bakal semakin menyatukan alam bawah sadar kalian. Hubungan kalian akan terjaga tetap hangat, semoga. Tergantung perjuangan berdua juga sih.
Kesimpulanya, kalo menurut kang Rifky, cewek matre itu gak ada. Tapi it’s okay lah, anggaplah cewek matre itu ada. Tapi klasifikasinya matre tuh kayak yang Kang iky bilang tadi, kalo minta dibeliin kapal pesiar atau pulau pribadi kayak simpenan-simpenan pejabat, tuh baru mutlak matre. Yang ada ialah cowok childish yang selalu menyalahkan keadaan, mengkambing-hitamkan kaum perempuan. Axa setuju deh sama kang iky, tapi masih bisa digali lagi nih pembahasannya, barangkali temen-temen punya pendapat lain, Axa nunggu feedbacknya.
Lalu yang dimaksud perempuan realistis, yang gimana kang?
“Gue gak masalah kok kalo Tia milih gue jadi calon teman hidupnya karena kondisi gue yang cukup mapan kayak saat ini. Ya bukannya belagu, secara finansial gue merasa cukup mapan untuk menghidupi seorang ‘Tia’ dan anak-anak gue kelak. Berarti Tia serius sama gue, iya kan? Kalo niat dia cuma buat main-main doang mah ya dia asal comot aja ya gak? Gue ngerasa cukup dewasa untuk jadi sandaran hati dia. Gue merasa cukup dewasa untuk menghargai keputusan Tia yang mau tetap berkarir setelah jadi istri gue nanti. Dia ngasih reason yang dewasa dan masuk akal, jadi gue approve, yah at least buat beberapa tahun aja, selebihnya gue sih maunya dia jadi full time mami. Tia mau berkarir bukan karena dia nggak yakin kalo gue mampu ngasih kehidupan yang layak buat dia. Justru Wanita realistis itu yang dewasa, bisa diajak sharing. Yang gue suka dari Tia juga dia tuh penuh perhitungan, visioner, hangat, penyemangat sejati. Ngerti kan penyemangat sejati, xa?”
“intinya, wanita dewasa itu yang saban hari ngasih lo power buat upgrade diri ya kang?? Then, bagi gue penyemangat sejati tuh bukan yang teriak teriak elo pasti bisa elo pasti bisa, itu mah basi. Penyemangat sejati tuh yang maksa kita untuk growing up, upgrade diri, sandaran hati tentunya. Thanks ya kang, kang Iky sama Tia tuh sama-sama beruntung saling menemukan, ciyeee.. semoga bahagia ever after ya kang, by the way berarti rencana lo ngeboyong Tia ke Borneo pending  dong kang?”
“Yap, pending, hehe!! Lo sendiri gimana xa? Kapan serius pacarannya?”
“Loh, menurut lo gue sering main-main gitu kang, fiyuh..”
“Maksud gue komit sama hubungan gitu , hadeh”
“kang, liat ke langit deh ada UFO!!” *kabur*
Thanks ngobrol sorenya kang iky!!
Dear pria dewasa, please deh, jangan anggap kaum kami materealistis alias memandang apapun dari segi materi, hanya karena alasan kami ingin  kalian menjadi calon teman hidup berkualitas, gak salah kan?
Dear pria dewasa, kelak nanti kami minta izin untuk membantu kalian mencari uang dengan berkarir di luar rumah, tolong jangan pikir itu sebuah tindakan pemberontakan kaum kami, atau bentuk perlawanan kami, apalagi tindakan durhaka kami pada kalian. Hal itu mutlak kami lakukan untuk sedikit meringankan kerumitan yang kalian hadapi demi mencukupi kami. Bagimanapun, kalian tetap pemimpin kami, pelindung kami, penjaga kami, sandaran hati kami.
Ngobrol soal ‘keluar rumah’ Axa jadi inget obrolan sama  ayah juga.
“perempuan tiga langkah keluar dari rumah itu harus si-izin suami Tha, kalo ngikutin syariat agama ya” Ucap ayah diperjalanan waktu jemput Axa pulang kerja di Sabtu sore.
“Agama kita se-kaku itu ya yah? Sound so repot dan gak fleksibel gak sih”
“Gak kaku sih, kalo dua duanya sama-sama dewasa, realistis, dan niatnya baik, malah seru dan asik kan. Semua keputusan diambil berdasarkan kesepakatan bersama. Keduanya sama-sama punya budaya izin dulu sama pasangan, seru kan?”
Obrolan  ini Axa tulis hanya sebuah bentuk apresiasi Axa untuk para pria dewasa, berkualitas,  bertanggung jawab,   visioner,  amanah-bisa dipercaya, positif thinkers, lovable, hangat, penuh cinta, dan bisa diajak sharing!! ;)
Berhubung  jam terbang Axa dalam hal romansa dan relationship sangat dikit. Pengalaman Axa dalam membina hubungan masih sedikit banget. Kalimat simpel nya ‘pengalaman pacarannya sedikit’. Jadi untuk proses pendewasaan yang berkaitan dengan psikologis pria, Axa dibantu pria-pria disekeliling Axa.
Maka ucapan terima kasih untuk para pria dewasa penuh inspirasi yang punya andil dalam proses pendewasaan Axa. Entah sahabat-sahabat Axa, abang Axa, ayah, para blogger, writer, temen-temen di sekolah, kampus, sodara-sodara, terutama Ko Kei as my tutor, Bang Alitt as my favorite writer, dan Catra Arisandi as my friend. Terima kasih untuk pendewasaan yang luar biasa. Bikin  open minded, gak gampang curiga sama kaum adam.
Seneng punya teman yang sepakat bahwa mantan yang baik adalah yang meninggalkan value setelah hubungan kalian harus usai. Bukan cuma ninggalin kenangan pilu, apalagi peta merah di tengkuk mu. Yakalih. *dijewer kak Seto*
Axa bingung nyari narasumber untuk mempelajari psikologis pria soalnya. Pernah tanya ayah, “Axa penasaran sama psikis pria deh yah, gimana cara tetap menghargai kaum pria di era yang katanya emansipasi ini” tanya Axa polos. Ciyeeehhh polos :p
Ayah Cuma jawab, “jangan ragu belajar atau bertanya langsung sama pria, kalo nanya-nya sama cewek juga ya miss dong, beda sudut pandang, intinya sih pria sebetulnya lebih sensitif” Begitu sedikit jawaban dari ayah Axa, jaman Axa masih sekolah. Kalo sekarang Axa nanya gitu, mungkin akan lebih panjang lebar lagi jawabannya. Thanks ayah!!

Jadi, sudah punya kesimpulan antara apa itu matre apa itu realistis. And then, which one are you, ladies?

0 comments:

Post a Comment

 

Iftitah Axa Template by Ipietoon Cute Blog Design