Minggu, 27 Desember 2015

Jatuh Cinta dan Reaksi Kimia
Entah bagaimana penjelasan ilmiahnya. Yang Axa rasain saat jauh dari buku-buku novel tuh, Axa mendadak menjadi makhluk dingin, insecure, yang sangat amat yakin kalau yang namanya cinta sejati tuh hanya mitos, ilusi, hoax, bualan, shadow, gak konkrit lah pokoknya. Cinta sejati cuma bahasa buatan manusia yang bingung untuk menggambarkan sebuah situasi when terjadi reaksi kimia dalam tubuh sepasang insan jatuh cinta.
Dalam tubuh wanita (saat jatuh cinta) akan memproduksi  hormon yang menghasilkan zat yang bernama Norephrine dan Phenilethylamine yang membuat seorang wanita berbunga-bunga saat jatuh cinta, gak bisa berpikir logis. Juga zat Dopamin yang otomatis terproduksi saat manusia jatuh cinta. Zat-zat tadi memicu zat lain lagi, namanya Zat Oxytoxin yang mendorong manusia untuk bermesraan dan melakukan kontak fisik kepada lawan jenis yang ia cintai. Ah, persetan dengan nama-nama zat tersebut.
-pun dengan longweekend kali ini yang Axa pikir hanya ilusi. Setelah menghabiskan 2 hari yang nyaris tanpa arti di selatan garut bersama cici, 2 hari di sisa longweekend ini Axa pilih melahap novel newest salah satu penulis kesayangan Axa – Om Darwis Tere Liye. Rasanya tidak ada aktivitas yang lebih khidmat, penuh nilai spiritual, bermanfaat, menenangkan daripada baca novel. Bahagia maksimal.
Itu mungkin salah satu jawaban dari lelucon ‘emang bisa jatuh cinta sama orang yang belum pernah kita jumpai sebegininya?’.  Menurut seorang mantan yang gak perlu Axa sebut namanya, jatuh cinta semaksimal ini hanya bisa terjadi kepada seseorang yang dengannya kita sudah terjadi kontak fisik, minimal kissing atau bahkan lebih dari itu. Dulu mungkin Axa percaya sama kata-kata tersebut. Makanya Axa sempat berpikir ‘berarti remaja yang punya prinsip tidak setuju sama pre marital sex tidak ada tahu apa itu jatuh cinta yang sesungguhnya dong ya?’ nyatanya gak begitu.
Nyatanya Axa pernah dibuat berbunga-bunga sama seorang pria hanya karena boohshelves dia di akun goodreads dipenuhi sama koleksi novel-novel keren. Axa bikin kesimpulan dia adalah sosok pria romantis, lembut, bijak, hangat, cerdas, pemimpin, dan entah. Sulit Axa temukan hal buruk dari orang itu. Karena kondisinya Zat Norephrine dan Phenilethylamine dan Dopamin sedang bereaksi dalam tubuh Axa, sulit mencari hal buruk dari orang tersebut. Dan ternyata pria-pria yang hobi baca buku atau novel-novel emang nampak berkali lipat lebih karen dan jantan walaupun sebetulnya lembut. At least, di mata Axa.
Padahal apa sih? Cuma baca novel aja kok, anak esde juga bisa baca. Lalu apa spesialnya pria 20 tahunan baca novel? Simpel, karena saat ini Axa ada di usia tersebut.
Itu pula mengapa berkutat dengan alam selalu mengasyikan, karena Axa ngerasa tingkat sensitif kita makin terasah saat kita bersinggungan langsung dengan alam. Setelahnya, Axa jadi ngerasa lebih mampu masuk ke dalam sebuah cerita dalam sebuah novel. Nikmatin langsung kejadian tersebut. Beda sama film. Dan mungkin memang kebetulan Axa bukan Movreak (pecinta film maksimal garis keras, hehe). Beda sama Ajunk yang pecinta novel sekaligus movreak. Axa menikmati film, tapi novel tetap segalanya. Karena kita bisa nyiptain karekter sendiri dari sebuah tokoh. Kalo film kita hanya tinggal mikir pola ceritanya aja, gak pake usaha menciptakan karakter lagi. Kalo novel, sekali kita males nyipatin karakter, kelar udah bacaan lo, jangan harap bisa lanjut kalo nyiptain karakter bayangan di imajinasi sendiri aja males. Pulang aja, tidur.
Kemarin di pinggir karang, sempat ngebahas cerita ‘Pulang’ om Darwis sama cici dan mama. Kebetulan kemarin Axa belum baca. Tapi itulah bedanya Film dengan Novel (bagi Axa). Kalo film, sekali ada yang nge-spoilerin ceritanya, Axa dah males buat pergi ke bioskop buat nonton tuh film, nanti aja lah nunggu keluar di tivi, atau cari blueray nya aja lah hehe. Tapi tidak dengan novel, semakin di spoiler sama orang laen, Axa malah makin gereget buat baca.
Barusan Ajunk pulang kerja pagi-pagi, Axa langsung cegat dia dengan cerita di ‘Pulang’ om Darwis. Dia dah baca kemarin-kemarin. Axa bilang tadi subuh bangun buat baca buku ini dan marathon gak berhenti sampe jam 10 pagi, dan selesai, sisa 2 bab terakhir yang sengaja Axa sisain buat dibaca sore nanti, karena gak punya agenda lain, hikshikshiks.
Grup diskusi WG Inner Circle –pun sepi 4 hari ini. Kebaca lah ya, mereka lagi pada naik gunung. Dan bisa dipastikan besok grup watsap akan penuh sama foto-foto yang mereka share. Axa dan cici mungkin kebagian ileran doang, mupeng, nasip. Yasudah, hidup emang begitu hahaha.
Sepintas keinget sama gurauan mama di Sayangheulang. “Mama kebayangnya ombak yang debum tinggi-tinggi jam segini tuh kayak anak kecil lagi pada main aja, rame, riuh, emang jam mereka main, lucu, seru, mereka hidup, air itu hidup, kalo anak kecil bakal nangis kalo dilarang main di waktunya main, air –pun.”
Lalu cici menimpali, “makanya gue takut banget sama air daripada api, lebih takut ke laut daripada ke gunung, karena air gak bisa dilawan”.
Axa yang kurang setuju sama cici langsung masuk ke percakapan, “Lu pikir api gak hidup? Gak bernyawa? Dia sama kayak air, angin, udara, pohon, hewan, semuanya hidup, bernyawa, berperasaan, kita gak bisa jahat sama yang manapun, kalo bermain oke lah.”
Kalo pesan mamak’nya Bujang  di buku ‘Pulang’ hanya 2 (hindari makan daging babi/anjing dan hindari minum alkohol) selebihnya bebas mau ber-agama atau tidak, mau jadi orang baik/jahat, bebas. Kalo mama Axa nambah satu lagi larangan buat anaknya; tidak menyakiti makhluk lain (apapun itu; manusia, tumbuhan, hewan, dll). Itulah mengapa Axa prefer bodo amat sama hubungan yang nggak jelas akhir-akhir ini. Sedikit mengulas, beberapa minggu terakhir Axa menjalin entah apa sebutannya, semacam hubungan yang bisa dibilang lebih dari sekedar teman, dengan seorang pria yang menyebut dirinya penikmat novel juga. Axa orang yang enggan in relationship untuk beberapa waktu kedepan, apalagi dengan orang yang tidak sepaham, dengan orang yang nggak percaya bahwa dunia itu luas banget, dengan orang yang terbiasa mengkotak-kotakan pertemanan, dengan orang yang pada umumnya, yang terbiasa men-judge hanya melihat dari satu sudut. Padahal katanya dia novel reader. Kok hobi kode kayak anak pramuka kalo lagi di hutan? Kok kasar?
Bukan, bukan, bukan. Axa juga gak ngaku sebagai pembaca. Axa baru penikmat novel aja. Tapi sedikit paham perubahan psikologis apa yang akan terjadi kalo hobi menikmati novel ini Axa lanjutin, begitupun dengan dia. Untuk itu dengan dinginnya Axa tegaskan ke orang tersebut kalau kita ada di dimensi berbeda. Kita harus belajar saling menghargai, gak mengusik prinsip orang lain. Kalau beberapa minggu lalu Axa memutuskan untuk in relationship sama dia, bukan karena khilaf sih. Mungkin lebih karena Axa mau sok belaga happy. Padahal kita gak bisa maksa diri dengan kalimat kamuflase macam apapun.
Sama kayak yang teriak “Puncak gunung itu bukan target melainkan bonus” padahal itu bohong. “puncak itu target!!” Jadi kalo kita gak sampe puncak berarti kita tetap harus nyoba kembali kesana untuk menuntaskan. Tapi mereka yang pandai membohongi diri sendiri akan menyulapnya dengan kata-kata pertama tadi ‘puncak itu bonus’, lari dari tanggung jawab.
Kita semua di dunia ini belajar guys. Dan dalam proses belajar kita gak bisa bohong. Kalo kita bohong kita gak akan tahu sampai dimana posisi belajar kita. Kalo dengan bohong sama orang lain aja bakal ngerusak mental kita, apalagi bohong sama diri sendiri, tentu akan lebih lebih ngerusak mental kita.
Btw, thanks buat mama dan cici my travelmate. Yakinlah setiap perjalanan selalu ada makna di dalamnya, bagi mereka yang percaya.
Terima kasih bunda Fidarasha yang keep in touch, semoga kita tetap saling mendoakan yang terbaik. Aamiin.
Kira-kira itu sedikit gulatan batin usai baca ‘Pulang’. Axa jatuh cinta, entah kepada apa. Yang jelas bahagia setelah baca. Yang jadi PR, tanggal 31, 1, 2, 3 adalah libur panjang (lagi), dan Axa belum punya buku baru untuk dibaca. Agenda nanjak –pun gak ada, gak ada duit maksudnya, hehe.
Selamat senja tercinta, semoga bahagia selalu menjadi atmosphere hidupmu, aku turut bahagia.

0 komentar:

Poskan Komentar